Rabu, 27 November 2013

PENGEMIS SPEKTAKULER DENGAN PENGHASILAN FANTASTIS

JAKARTA- Ketika melihat pengemis yang terbersit dalam benak kita adalah rasa iba dan kasihan. Karena melihat kondisi tubuhnya yang kurang terawat dan pakaiannya yang agak kumel, bahkan compang-camping. Kesan tersebut tidak keliru karena semua pengemis atau lebih sering dikenal dengan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) jalanan, berpenampilan kurang menarik.

Begitu juga dengan H. Walang pengemis yang mengaku berasal dari Sumedang Jawa Barat ini juga berpenampilan kebesaran layaknya PMKS lainnya, lusuh, berantakan sehingga sangat efektif bagi calon pemberi untuk merasa iba. Setelah terjaring razia gabungan petugas P3S dan Kasi Yanrehsos pada Selasa (26/11/13) pukul 19.30 WIB di bawah Tugu Pancoran. Didapatkan keterangan yang sangat mengejutkan. Ternyata pendapatan dari mengemis atau meminta-minta H. Walang mendapatkan pengahasilan yang sangat spektakuler. Dalam rentang waktu lima belas hari mengemis Walang mendapatkan uang sebanyak 25.448.600 rupiah. Dengan asumsi pendapatan perhari sebesar 1.629.900 rupiah. Semua uang tersebut disembunyikan dalam gerobaknya.

Menurut Kasi Yanrehsos Sudin Sosial Jakarta Selatan Miftahul Huda, "Razia kali ini mengejutkan kita semua, dari keterangan yang bersangkutan dan berdasarkan bukti yang kami temukan, pendapatan pengemis yang satu ini sangat fantastis. dalam lima belas hari bisa mengumpulkan uang sebesar dua puluh lima jutaan lebih". Mengalahkan gaji Kasudin Jakarta Selatan, sambungya bersemangat.

Fenomena ini terus bergulir seiring berjalannya waktu, penghalauan dan sosialisasi sudah dilaksanakan agar DKI Jakarta bebas PMKS jalanan. Spanduk, baliho, dan seruan kepada masyarakat agar tidak memberi dan membeli di jalanan sudah digalakkan. Akan tetapi kenyataannya masih saja banyak peminta-minta yang datang ke Ibukota untuk mengais rejeki.

Dalam menyelesaikan permsalahan PMKS ini, membutuhkan peran serta masyarakat untuk menyadarkan para musafir trotoar ini, agar tidak beraktifitas dijalanan. Terutama tokoh-tokoh masyarakat, pemuka agama harus memberi bimbingan dan penyadaran bahwa, "tangan yang di atas lebih mulya dari tangan yang di bawah", artinya "memberi ditempat yang benar, lebih mulya dari pada meminta-minta", apalagi dijalanan. Miftahul Huda, menjelaskan. (ASM)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar